Thursday, September 02, 2010

Pidato Presiden Cuma Pengulangan

Malaysia Berulah

Kamis, 2 September 2010 | 09:43 WIB
RUMGAPRES/ABROR RIZKI
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato mengenai hubungan RI-Malaysia usai berbuka puasa bersama prajurit dan perwira TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010) petang.


JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq, yang juga Ketua Komisi I DPR—membidangi politik dan hubungan luar negeri—menyatakan, pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait konflik yang terjadi dengan Malaysia di Markas TNI, Cilangkap, Rabu (1/9/2010) malam, hanya sebuah pengulangan.
Posisi Indonesia akhirnya harus menunggu. Jika responnya positif, berarti pesan Presiden berhasil.
-- Mahfudz Siddiq

"Pidato Presiden SBY adalah pengulangan dan penegasan sikap pemerintah yang mengedepankan penyelesaian diplomatik dan fokus pada penyelesaian perundingan batas wilayah," kata Mahfudz, Kamis (2/9/2010).

Sebelumnya diberitakan, baik Menko Polhukam Djoko Suyanto maupun Menlu Marty Natalegawa sudah beberapa kali dalam beberapa kesempatan memberikan tanggapan terkait insiden 13 Agustus lalu di perairan Pulau Bintan. Dalam pidato Presiden semalam, soal insiden itu kembali disinggung. Tak ada yang membedakan makna yang disampaikan Presiden maupun kedua menterinya itu.

Mahfudz Siddiq kembali memberikan argumentasinya. "Yang menjadi persoalannya nanti adalah bagaimana jika respons Pemerintah Malaysia tidak seperti yang diharapkan Indonesia?" katanya.

"Posisi Indonesia akhirnya harus menunggu. Jika responsnya positif, berarti pesan Presiden berhasil. Jika tidak, maka harus ada sikap baru yang lebih kuat dan progresif," tegas Mahfudz.

No comments: