Tuesday, September 14, 2010

DPR Anggap Saatnya TNI Modernisasi Alutsista


Kamis, 09 September 2010 | 12:58 WIB


Puluhan KRI TNI/Polri parade pada puncak acara Sail Banda di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, Maluku, (3/8). TEMPO/Subekti.

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Mahfudz Siddiq mengakui alat utama sistem persenjataan Indonesia saat ini sudah tertinggal jauh dari negara lain, bahkan negara tetangga. Oleh karena itu, dia setuju untuk memaksimalkan anggaran TNI yang mengacu pada pemenuhan minimun essential forces TNI.

Menurut Mahfudz, ketertinggalan alutsista serta pertahanan ini disebabkan alokasi anggarannya selalu sangat minim. Kecilnya anggaran untuk sistem pertahanan itu sebagai akibat dari kebutuhan anggaran untuk sektor lain yang juga besar. Karena itulah dia mengaku setuju dengan pidato Presiden semalam yang berharap agar DPR bisa memperbesar anggaran pertahanan supaya memenuhi minimum essential forces TNI.

“Kalau Indonesia mau diperhitungkan kekuatan militerisya, sudah mendesak untuk mengalokasikan anggaran yang sesuai untuk pertahanan, yakni harus mengacu pada pemenuhan minimum essential forces,” kata Mahfudz melalui sambungan telepon, Kamis (9/9).

Mahfudz mengatakan, kebutuhan anggaran untuk memenuhi minimum essential forces TNI dari 2010 hingga 2014 adalah sebesarRp 150 triliun. Itulah gambaran kebutuhan anggaran yang menurut Mahfudz dibutuhkan negara agar dapat menuntaskan modernisasi alutsista Indonesia. Dia yakin total kebutuhan anggaran itu dapat terpenuhi.

Terlebih, kata dia, dengan adanya insiden dengan Malaysia terkait perbatasan beberapa waktu silam. Insiden itu membuat pemerintah serta DPR sepakat untuk menggeledah ulang masalah pertahanan dan keamanan Indonesia. Misalnya, kemampuan Indonesia dalam mengontrol laut yang dinilai kurang, lalu terlihat juga ternyata akibat kurangnya kontrol ini terdapat kerugian ekonomi yang sangat besar.

Mahfudz mencontohkan, kerugian karena ilegal fishing yang diperkirakan per tahun mencapai Rp 20 triliun, ilegal logging sekitar Rp 18 triliun, belum lagi penyelundupan BBM, dan lainnya. Sehingga dia merasa saat ini kebutuhan meningkatkan pertahanan sangat penting.

Terlepas dari ada tidaknya insiden penangkapan tiga petugas Dinas Kelautan Agustus lalu, alutsista tentara Indonesia memang sangat tertinggal. "Dulu kita ini negara militer terkuat di ASEAN sekarang keadaan jauh berbeda. Makanya mau tidak mau, meski posisi ekonomi belum maksimal tapi anggaran untuk mencapai minimum essential forces perlu diprioritaskan,” ujarnya.

MUTIA RESTY

No comments: