Thursday, September 02, 2010

Oposisi Malaysia Kecewa atas Sikap Konfrontatif Najib

Sabtu, 28 Agustus 2010 | 05:57 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemimpin oposisi Malaysia dari Pakatan Rakyat, Anwar Ibrahim, kemarin menyatakan kekecewaannya atas sikap konfrontatif yang diterapkan pemerintah Perdana Menteri Najib Razak terhadap Indonesia.

"Saya sama sekali tak menyokong langkah yang diambil untuk bermusuhan dengan Indonesia," kata Anwar kepada Tempo saat dihubungi melalui telepon seluler istrinya kemarin. Ia meminta pertemuan pejabat tingkat tertinggi diselenggarakan untuk menyelesaikan pelbagai persoalan kedua negara.

Hubungan Indonesia dan Malaysia kembali memanas setelah insiden penahanan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau oleh Malaysia. Ketiga aparat itu ditangkap setelah menahan para nelayan Malaysia yang memasuki perairan Indonesia secara tidak sah.

Insiden itu memicu gelombang demonstrasi di pelbagai daerah. Konflik kian memanas setelah sekelompok demonstran melempari Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta dengan kotoran. Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman pun tersengat. Ia mengancam akan mengeluarkan imbauan agar warganya menunda dulu rencana berkunjung ke Indonesia (travel advisory) jika situasinya terus memburuk. Demonstrasi balasan pun terjadi di beberapa kota di Malaysia.

Anwar menuding ada pihak-pihak di dalam partai berkuasa, Organisasi Bangsa Melayu Bersatu (UMNO), yang ingin memanas-manasi hubungan kedua negara. "Kedua rakyat rugi, tidak ada yang untung," ia menegaskan.

Ia menyeru agar para elite di Malaysia tak terlalu menanggapi secara berlebihan protes yang dilakukan sekelompok kecil orang di Indonesia. Ia meyakini kebanyakan penduduk dari kedua negara menginginkan hubungan bilateral tetap terus damai dan tenang.

Di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melayangkan surat resmi kepada Perdana Menteri Najib Razak kemarin berkaitan dengan sengketa terbaru ini. Namun juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, menolak menjelaskan isi surat itu. Ia hanya menyatakan pemerintah kecewa atas peristiwa penangkapan tiga aparat Indonesia oleh Malaysia itu.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto dalam acara buka puasa bersama tadi malam menjelaskan, Indonesia telah mengirim dua nota keberatan. Nota pertama dikirim Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa pada 18 Agustus lalu, yang berisi tentang keberatan terhadap penangkapan tiga petugas Indonesia. Nota kedua berisi tentang keberatan terhadap perlakuan yang diterima tiga petugas itu.

Dengan mengirim dua nota itu, kata Djoko, Indonesia ingin mendorong percepatan pembahasan wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. "Kedua pihak telah sepakat mempercepat pembahasan menjadi 6 September nanti," ujarnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah, dalam jumpa pers kemarin menyatakan Indonesia tak akan menarik Duta Besar Da'i Bachtiar dari Kuala Lumpur. Ia menilai keberadaan Da'i di sana penting untuk menengahi persoalan yang ada. "Ibarat perang, jenderal selalu pulang terakhir," ujarnya.

Hubungan kedua negara kerap memburuk, dari persoalan penyiksaan pekerja Indonesia hingga klaim budaya dan perbatasan oleh Malaysia.



l Adisti Dini Indreswari | Dwi Riyanto Agustiar | Faisal Assegaf

No comments: