Tuesday, September 14, 2010

Komisi I DPR Kecewa, Menlu Mau Dihujani Kritik

14 Sep 2010 #
# Rakyat Merdeka


Dalam waktu dekat ini. Menteri Luar Negeri Marty Muliana Natalegawa harus siap-siap dihujani kritik oleh Komisi I DPR. Pasalnya, Komisi yang membidangi pertahanan dan luar negeri itu kecewa dengan hasil perundingan Kinabalu.

"MEMANG secara keseluruhan, kami sangat kecewa sekali dengan sikap yang ditunjukan oleh pemerintah kita terhadap Malaysia dalam perundingan tersebut. Maka dalam pemanggilan Menlu ke DPR sehabis lebaran ini, tentu akan banyak protes yang dilayangkan teman-teman ke pemerintah," kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.

Kekecewaan itu, kata Mahfudz, terkait dengan lemahnya pemerintah dalam menempatkan posisi terkait masalah yang banyak ditimbulkan oleh pemerintah Malaysia. Karena kele-mahan dari pemerintah tersebut, menurutnya, banyak masalah yang diharapkan banyak pihak dapat dihasilkan dengan baik, ternyata justru tidak dan mengecewakan.

"Makanya dalam pemanggilan Menlu nanti, saya kira akan banyak sekali kritikan yang disampaikan oleh teman-teman di Komisi I DPR terkait hasil pertemuan Menlu di Kinabalu," tegas politisi PKS ini.

Menurut Mahfudz, meskipun Kinabalu pertemuan rutin tahunan, namun dengan momen yang sedang berkembang saat ini, pemerintah bisa lebih progresif dan lebih tegas dalam mencarisolusi terkait masalah yang sedang terjadi. "Makanya kami berharap pertemuan semacam ini, akan terus dilakukan terutama untuk menyelesaikan masalah perbatasan yang sampai sekarang belum jelas," harapnya.

Kekecawaan serupa juga dialami Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin. Politisi PDIP ini justru sudah kecewa sedari awal persiapan perundingan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Menurutnya, pemerintah lemah dalam mempersiapkan materi perundingan dan pra kondisi menjelang perundingan. Sehingga tak heran, ketika pertemuan berlangsung, tidak banyak hasil yang dicapai dalam pertemuan tersebut.

"Saya mendapatkan informasi dari Kinabalu, mereka hanya melakukan pertemuan selama tiga jam. dengan agenda perkenalan, karena temyata timperundingan dari Malaysia itu orang baru semua," tuturnya.

Selain itu, sambung dia, pertemuan itu juga hanya membuat jadwal-jadwal apa saja yang akan dibicarakan pada tahun depan. Termasuk penyampaian nota protes dari masing-masing Negara.

"Setelah itu pertemuan selesai dan menunggu berbuka puasa. Jadi apa yang bisa didapatkan?" Jadi, tak heran kalau kemudian kita takkan mendapat apa-apa dari perundingan Kinabalu. Ini artinya negara kita tak di-manage dengan baik," tandasnya.

Seperti diketahui, pada tanggal 6 September kemarin. Menteri Luar Negeri RI Marty Muliana Natalegawa melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Malaysia Datuk Sri Anifah bin Haji Aman di Kinabalu, Malaysia.

Dalam JCBC (joint commission for bilateral cooperation) tersebut, Indonesia dan Malaysiasepakat mempercepat penyelesaian perbatasan laut dan yang masih sengketa dan akan mengadakan empat pertemuan hingga Desember 2010.

"Kedua Menlu RI dan Malaysia akan bertemu lagi di sela-sela sidang umum PBB pada minggu ketiga September 2010. Selain itu telah dijadwalkan perundingan perbatasan tingkat teknis ke-16 dan 17 masing-masing pada tanggal 11-12 Oktober 2010 di Malaysia dan 23-24 November 2010 di Indonesia," kata Menlu Marty Natalegawa dalam jumpa persnya.

Selain menghasilan jadwal perundingan, kedua negara sepakat untuk penerapan SOP (standard operating procedure) dan ROE (rule of engagement) bagi para petugas terkait di lapangan untuk mencegah terulangnya insiden serupa terjadi pada saat mendatang. sis

No comments: