Wednesday, May 04, 2011

Presiden PKS: Indonesia Jangan Turuti AS

Kompas GramediaKompas – Sen, 2 Mei 2011


JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia diminta tidak mengikuti agenda Amerika Serikat dalam mengantisipasi potensi kekerasan dan terorisme oleh generasi muda Indonesia. Justru, kepemimpinanlah yang harus diperkuat untuk mengantisipasi potensi kekerasan dan terorisme yang ditunjukkan oleh survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian bahwa 49 persen siswa menyetujui aksi radikal dalam menyelesaikan masalah agama dan moral.

"Mengubah kurikulum itu agenda Amerika Serikat untuk terorisme di Timur Tengah. Indonesia tak perlu ikut-ikutan menyuarakan agenda AS untuk negeri kita. Biarlah itu untuk Timur Tengah dan jangan dibawa di dalam negeri," kata Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaq di Hotel Sahid Jaya, Senin (2/5/2011).

Menurut dia, peran pemimpin, baik negara maupun institusi-institusi yang lebih kecil, termasuk sekolah dan keluarga yang seharusnya diperkuat. Kepemimpinan harus memberikan perhatian penuh bagi generasi muda. Salah satunya dengan membuka seluas-luasnya kanal bagi para pemuda dan remaja untuk menyalurkan aspirasi mereka.

Para pemimpin juga harus duduk bersama untuk memberikan harapan yang cerah bagi aspirasi para generasi muda tersebut, dengan merumuskan solusi yang konkret daripada sekadar janji yang tak jelas juntrungannya. Kalaupun Indonesia disebut sebagai lahan subur terorisme saat ini, Luthfi mengatakan, negara lain juga mengalaminya.

"Indonesia bukan satu-satunya negara yang seperti itu. Yang harus dievaluasi, kan, harusnya bukan anak-anak SMA saja, tetapi juga seluruh pimpinan formal dan informal harus mengevaluasi diri agar bisa mengambil peran yang konstruktif terhadap anak-anak SMA dan mahasiswa saat ini. Mereka, kan, selama ini merasa tak memiliki saluran aspirasi, tak merasa diperhatikan, hak-hak tak dipenuhi sehingga mengambil langkah-langkah destruktif," katanya.

Semua pihak, mulai dari keluarga, guru, dosen, pimpinan masyarakat, hingga tokoh agama seharusnya mengambil peran untuk melakukan pendidikan yang komprehensif. Pendekatan ini harus dibarengi pula dengan pendekatan represif dan antisipatif oleh aparat keamanan.

1 comment:

Anonymous said...

Assalamu'alaikum.

Om Lutfi, aq setuju nih..!
Heroisme temen-temen bangkit, atas seruan om ini. Apa urusannya, Amerika memaksakan perubahan kurikulum pendidikan Indonesia ?

Kalo alasannya membendung radikalisme. Berdasarkan survey/penelitian LaKIP ( Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian ) tentang besarnya potensi radikalisme dikalangan temen-temen SMU.

Simpel aja, internet memberi informasi gamblang ketidak-adilan barat yang dipimpin Amerika terhadap dunia berkembang dan Islam. Sangat sulit menghentikan kesewenangan Amerika itu. Jelas donk, didada temen-temen diam-diam mendambakan perubahan dan perlawanan. Yang bahasa LaKIP : "radikalisme".

Semangat patriotisme ini, seharusnya diarahkan dengan baik. Untuk kepentingan bangsa, negara dan pembelaan kaum terdzolimi dibumi Allah SWT. Bukan dilemahkan, untuk kepentingan Amerika.

Bagaimana aq tak mengidolakan om Usamah bin Ladin. Jika banyak para pejabat & politikus Indonesia mendambakan dan menghambakan hidup mewah bergelimang materi. Sementara om Usamah meninggalkan kehidupan mewahnya, demi perjuangan yang dia yakini kebenarannya ?

Oh ya, Om Lutfi... jangan zholim sama pak Tua ya..