Friday, February 11, 2011

Pendorong Politik Konsensus

Mahfudz Siddiq (Nominator Polling INILAH.COM)
Oleh: R Ferdian Andi R
Kamis, 10 Februari 2011 | 06:10 WIB


INILAH.COM, Jakarta - Jejak rekam politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq di parlemen cukup menonjol. Dalam beberapa peristiwa penting di DPR, Mahfudz telibat aktif. Peran politikus muda PKS ini tidak terlepas dari karakternya yang mendorong politik konsensus.

Profil Polling Politisi Senayan Terpopuler

Di jajaran petinggi PKS, Mahfudz masuk di lingkaran elit. Seusai Musyawarah Nasional (Munas) II PKS Juni 2010 lalu, Mahfudz didapuk sebagai Wakil Sekjen Bidang Media DPP PKS. Di samping itu ia juga diberi mandat sebagai Ketua Komisi Bidang Luar Negeri dan Pertahanan (I) di DPR RI menggantikan Kemal Aziz Stamboel.

Karir Mahfudz Siddiq di PKS dimulai sejak partai yang berembrio dari Gerakan Tarbiyah di Indonesia ini berdiri dengan nama Partai Keadilan. Ia dikenal sebagai aktivis kampus di Universitas Indonesia (UI) serta di kelompok kajian Studi dan Informasi Dunia Islam Kontemporer (1995-1998).

"Lembaga ini pernah melakukan kajian tentang usulan pembentukan partai politik baru yang berasas Islam modern. Idenya ketemu dengan Gerakan Tarbiyah maka berdirilah Partai Keadilan," katanya kepada INILAH.COM di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua Komisi Luar Negeri DPR belum lama ini.

Anggota DPR dari daerah pemilihan Cirebon dan Indramayu ini mengaku dengan terjun ke politik praktis dapat melakukan interaksi langsung dengan masyarakat, khususnya di daerah pemilihannya. Ia juga terlibat aktif dalam politik lokal. "Ini momentum untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat," ujarnya.

Di samping itu, mantan Wakil Ketua Pansus Angket Bank Century ini mengaku, terjun ke politik praktis dapat mengambil manfaat penting dalam melakukan komunikasi dengan berragam unsur politik, pemikiran dan pandangan di parlemen. "Di politik belajar membuat konsensus dan mengelola konflik," akunya.

Apalagi, menurut alumnus magister politik Universitas Nasional (Unas) Jakarta ini, latar belakang politik PKS yang mengedepankan moderasi cenderung mengutamakan konsensus ketimbang membuat konflik.

Pengalaman politik Mahfudz di DPR selama dua periode terakhir ini tak perlu diragukan lagi. Dia pernah menjadi Ketua Fraksi PKS, anggota Komisi Dalam Negeri (II) serta anggota Badan Musyawarah (Bamus). Mahfudz juga pernah menjadi anggota panitia khusus BBM, serta menjadi salah satu Wakil Ketua Pansus Angket Century. Dan kini, Mahfudz menjadi Ketua Komisi I DPR.

Terkait kerja di Komisi I, Mahfudz memiliki obsesi di Komisi Luar Negeri dan Pertahanan ini. Dia berharap Komisi I di bawah kepemimpinanya harus meninggalkan jejak positif. "Saya sampaikan ke kawan-kawan Komisi I agar bisa meninggalkan legacy," ujarnya.

Beberapa mimpi telah ditanamkan di Komisi I. Mahfudz menuturkan agar Komisi I mampu melahirkan postur TNI yang kuat dan berwibawa melalui Alat Utama Sisten Utama, pengembangan industri, hingga profesionalisme TNI.

"Kami juga mendorong agar Indonesia memiliki posisi politik kawasan dan multilateral yang berwibawa. Serta melakukan reorientasi dalam kebijakan politik luar negeri," paparnya.

Dalam konteks politik luar negeri, Mahfudz menilai selama ini Indonesia identik dengan kiblat politik ke barat. Kondisi demikian, sambung Mahfudz perlu adanya perimbangan. "Karena saat ini juga muncul kekuatan baru China, India, dan Turkei," ulasnya.

Mimpi berikutnya terkait Komisi I, Mahfudz mengidealkan terciptanya masyarakat informasi Indonesia yang cerdas. Menurut dia, media massa menjadi pilar peradaban bangsa Indonesia. "Dalam rekayasa peradaban mau tidak mau, pers menjadi ujung tombak," paparnya.

Karir politik Mahfudz di parlemen tidak terlepas dari cara dia yag selalu belajar dan mendengar dari pihak lainnya. Baginya, di dunia politik tidak bisa tampil di gelanggang seperti orang yang serba bisa. "Justru kekuatan politisi, menjadi karakter kepemimpinan, mendengar, menyerap semua gagasan dan diolah sesuai perspektif idealisme," katanya. [mdr]

No comments: