Wednesday, June 24, 2009

Taujih Ust Rahmat Abdullah

Sebelum seorang manusia bekerja & beramal, sebelum seorang muslim melakukan amal-amal yg byk dlm kehidupannya; pertama-tama yang harus dimiliki adl al-fahmu. Sebuah pemahaman yg benar tentang ad-dien, tentang agama ini. Sesudah itu, dia harus punya komitmen untuk melaksanakannya. Dia pun merawat amal itu dengan kesabaran dan memilih yang terbaik dari segala kemungkinan yang terbuka didepannya. (Alm Ust Rahmat Abdullah)

11 comments:

Ikhwan Semarang said...

Assalamu'alaikum

Anonymous said...

Assalamu'alaikum.
Dear my beloved ustadz & all brother...

Semoga kita diberkahi Allah SWT dibulan Rajab dan Sya'ban.

Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan nan membahagiakan, yang dinanti-nanti.
Bulan mulia penuh berkah. Yang keindahannya seperti eratnya persaudaraan kita dalam Agama Allah SWT.

Mohon dima'afkan segala kealpaan dan kelancangan.

Mahfudz Siddiq said...

"Allahumma Baariklana fi Rajabana Wa Sya`baana, Wa Balighnaa RAMADHAN"

Anonymous said...

Assalamualaikum

Kang mahfudz sy pemilih PKS pada PILEG 2009 kemarin. Kang diluaran ada kabar yg mengatakan kl boediono blm naik haji. Tp sy blm tau pasti apa itu benar atau kabar burung saja.

Kang sy pengen nanya apa bener boediono blm naik haji?. tolong dijawab ya kang

Anonymous said...

ASHABUS SABT DAN ANGGOTA DPR

Aslmkum.
Saudaraku, selain bersyukur atas ribuan da'i PKS yang terjun di kancah amar ma'ruf nahi munkar DPR dan DPRD. Hati ini menyimpan sedikit kegundahan.

Apakah para da'i PKS di DPR & DPRD akan berhasil melewati ujian. Atau gagal sebagaimana "Ashabus Sabt" bani israil (QS.Al A'raf 163) ?

Fenomena "kemakmuran" (yang halal, subhat atau haram) akan menghampiri mereka selama masa jabatannya. Dan belum tentu terjadi setelah itu. Sebagaimana ikan-ikan yang Allah SWT datangkan hanya pada hari Sabtu. Sebagai ujian kepada bani israil.

Sudah banyak orang mafhum, melimpahnya "kemakmuran" anggota DPR & DPRD, selain dari gaji dan tunjangan yang halal. Juga bersumber dari uang jasa atas praktek kolutif dengan kelompok kepentingan.

Seperti pelulusan UU, pengangkatan Pejabat Publik, pelulusan mata anggaran tertentu, dll. Dimana jumlahnya jauh melebihi gaji yang halal.

Saudaraku, kita tak ingin terjebak dalam prasangka atau praktek penghakiman. Kepada para da'i PKS yang mulia. Sebaliknya, kita ingin menyemangati mereka, berhasil melampaui ujian ini.

Kegagalan dalam ujian ini, berakibat fatal. "qulnaa lahum kuunuu qiradatan khaasiiin". (Kami katakan kepada mereka, "jadilah kamu kera yang hina") (QS Al A'raf:166)

Kera personifikasi mahluk yang terkadang lucu dan menggelikan polahnya. Dilain waktu menyebalkan dan bikin geram. Tak mengenal batas halal, subhat dan haram. Pragmatis, demi mengenyangkan perutnya hari itu. Pada jenis tertentu bersifat kanibal, pemangsa sesama. Terkadang menyeringaikan taring, menepuk dada, tunjukkan rasa berkuasa.

Saudaraku, mari kita ingatkan para da'i PKS di DPR & DPRD tercinta. Agar berhati-hati dalam menempuh ujian ini. Menguatkan azam mereka, menghindari perkara subhat dan haram. Melawan segala perintah dan bujukan yang menjurus kesana. Karena kita hanya tunduk kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya SAW.

Saudaraku, marilah kita ingatkan agar cepat-cepat bertaubat, sekiranya dalam perjalanan masa jabatannya, mereka terjerumus dalam kegagalan. Jangan biarkan kegagalan dalam ujian ini terus berulang dengan sengaja.

Saudaraku, kita sungguh kuatir, jika para da'i PKS di DPR & DRPD gagal dalam ujian ini. Kebijakan, keputusan dan perilaku diranah politiknya, merefleksikan polah kera.

Yang boleh jadi keputusan politiknya menggelikan, namun terkadang bikin geram. Pragmatis, melupakan platform politiknya. Terkesan demi kepentingan kekuasaan jangka pendek. Memberangus para pengkritisi kebijakan. Dan suka mengancam-ancam padahal cuma gertak sambal.

Saudaraku, apa yang kita ingatkan kepada para da'i PKS di DPR & DPRD terhormat. Adalah : SEKALI-KALI JANGAN MENCICIPI "KEMAKMURAN" YANG SUBHAT APALAGI HARAM. YANG KESEMPATANNYA HANYA TERJADI PADA MASA JABATANNYA.

Saudaraku, kita mengingatkan. Semata-mata supaya : "ma'dziratan ilaa rabbikum wala'allahum yattaquun" (agar kami punya alasan (melepas tanggung jawab) kepada Tuhan mu, dan agar mereka bertaqwa) (QS.Al A'raf:164).

Semoga Allah SWT mengumpulkan kita kedalam orang-orang yang bertaqwa. Amin.

Anonymous said...

Ass.
Ustadz, membaca artikel "ASHABUS SABT DAN ANGGOTA DPR" dari ikhwah diatas. Ana nitip pesan, supaya dalam pemilihan GUBERNUR BI yang baru, mempertimbangkan sebesar-besarnya kemaslahatan da'wah dan bangsa ini. Jangan ada deal politik yang hanya berharap pada imbalan dana, dari sumber yang tak jelas. Seperti pada kasus Miranda S Gultom.

Anonymous said...

Om-om, mau ikutan nimbrung cerita "ASHABUS SABT DAN ANGGOTA DPR". Kata sebagian jumhur mufassir, Ashabus Sabt jadi kera. Terus mati tiga hari besoknya. Moga-moga PKS lolos ujian, gak jadi kayak kera dalam berpolitik. En nongolnya PKS di tanah air, gak sesingkat hidupnya kera Ashabus Sabt.
Maapin kita-kita ya, om ustadz.

good said...

Assalamu'alaikum wr wb

Mari kita sama-sama membaca majalah sabili edisi 25, tahun XVI, 2 juli 2009, 9 Rajab 1430, untuk menambah informasi menghadapi pilpres 2009

Wassalamu'alaikum wr wb

Anonymous said...

Sabili.co.id, senin 28/06/09.
.........Dalam pandangan MR Kurnia (DPP HTI), Neoliberal sangat berbahaya bagi dunia dan akhirat. Menurutnya dari ketiga pasangan capres dan cawapres, ketiganya sama-sama mengusung liberalisme di Indonesia.

“Ekonomi kerakyatan yang diusung calon presiden saat ini hanya bungkus luarnya saja, dalamnya tetap liberal. Mereka kan satu sekoci, satu kesatuan.” kata MR Kurnia.

Jadi, masih menurut MR Kurnia sama saja. Semuanya tetap liberal. Perubahan sistem bagi HTI, menurut MR Kurnia adalah penegakan syariat Islam di Indonesia.

*Comment :

Mo golput, coy ???

Atao ikut ustadz :"...dari pada mengutuki terus kegelapan. Lebih baik nyalakan pelita, meski dengan sebatang lilin kecil...kami harap PKS bisa seperti lilin tersebut..."

Anonymous said...

Ichsanuddin Noorsy : "...ketiga pasang capres-cawapres itu semuanya penganut neoliberal...".
(sabili.co.id, senin 29/06/09)

*Comment:
Gue ikut ustadz aja :
"...dari pada mengutuki terus kegelapan. Lebih baik nyalakan pelita, meski dengan sebatang lilin kecil...kami harap PKS bisa seperti lilin tersebut..."

Anonymous said...

kecap...kecap...
sambel..sambell...

dari pada ngecap.., lebih baik nyambel..

terkutuk...