Wednesday, February 04, 2009

Blok Golkar Tandingi Mega-SBY?

Politik
03/02/2009 - 14:29
Blok Golkar Tandingi Mega-SBY?
Berlianto & Raden Trimutia Hatta

INILAH.COM, Jakarta - Wacana adanya capres selain SBY dan Megawati Soekarnoputri terus menggelinding. Harapannya, figur itu ditopang dengan blok politik alternatif. Partai Golkar diusul menjadi motor penggeraknya. Beranikah Golkar bermanuver tinggalkan SBY?

Pihak 'Beringin' sendiri tidak menampik ide tersebut. Sejauh ini, ide tersebut memang masuk dalam opsi politik yang disiapkan Golkar. "Sampai hari ini Golkar tidak menutup diri dari segala kemungkinan apapun di 2009, termasuk menjadi motor penggerak koalisi yang benar-benar diinginkan rakyat," ujar Wasekjen Partai Golkar Rully Chaerul Azwar.

Ia menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan tiga opsi politik dalam menghadapi pilpres mendatang. Selain blok alternatif, Golkar juga mengantongi pilihan kembali duet SBY-JK serta ide koalisi dengan PDIP.

"Tapi semua itu perlu dibicarakan lebih lanjut dan kemungkinan akan dibahas pada Rapat Konsultasi Nasional bulan Februari ini," katanya.

Kesediaan Golkar ini pun disambut baik sejumlah parpol. PPP, misalnya, menilai memang sudah seharusnya Golkar memotori koalisi alternatif. Bahkan, sejatinya pertautan itu tidak perlu menunggu hasil pemilu legislatif.

"Paling tidak memberikan masyarakat beberapa opsi terkait penentuan capres," ujar Ketua DPP PPP Lukman Hakim Saefuddin.

Respon senada juga diberikan PKS. Parpol bernomor urut delapan ini juga mendukung Golkar mempelopori terbentuknya koalisi tersebut. "Kalau untuk parpol papan tengah dan bawah, dari beragam survei menunjukkan suaranya cenderung mengalami penurunan. Jadi poros alternatif peluangnya akan lebih besar bila dimotori Golkar," ujar Ketua DPP PKS, Mahfudz Siddiq.

Menurutnya, sikap gamang Golkar mau tidak mau akan mempengaruhi sikap politik partai menengah dan kecil. Alhasil, parpol lain akan ikut ragu dalam mengusung capres di luar stok yang ada, SBY dan Megawati. "Kalau PKS melihatnya, blok A harus muncul karena tradisi pemilu Indonesia sangat jarang memunculkan hanya dua calon. Masyarakat juga membutuhkan dimunculkannya calon alternatif," jelas Mahfudz.

Partai Gerindra pun juga tidak mau kalah. Parpol besutan Prabowo Subianto ini juga kepincut menjadi motor blok A. "Yang harus dipikirkan adalah baik blok M dan Blok S itu kan pemimpin bekas, jadi memang harus dipikirkan adanya altenatif," jawab Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani.

"Terlepas dari nanti siapa yang akan dimunculkan, selama ini kita sudah menjalin komunikasi baik dengan seluruh parpol terkait dengan hal itu (alternatif)," tukas Muzani.

Tetapi tidak semua pihak menganggap ide Blok A cemerlang. PKB misalnya malah ingin ikut latah membuat blok lain, blok pembaruan. Sebab, pertarungan politik yang ada saat ini lebih dikarenakan faktor usia, tua dan muda. "Pemimpin-pemimpin yang ada sekarang itu kan generasi tua. Pertanyaannya apakah akan terus memimpin atau akan muncul generasi baru?" ucap Wasekjen DPP PKB, Helmy Faizal Zaini.

Karena itu, blok Pembaharuan ala PKB ini dijanjikan memberikan harapan baru. Blok tersebut dimungkinkan terbentuk dengan melihat hasil pemilihan legislatif nanti. PKB juga sedang merancang langkah-langkah yang akan diambil. "PKB ingin ada harapan baru. Karenanya PKB membentuk blok baru dengan nama Blok Pembaharuan," imbuhnya.

Sementara, kubu Megawati (Blok M) mengaku sudah memprediksi koalisi yang akan dibangun Golkar. Namun, tetap saja dianggap bukan merupakan koalisi alternatif. "Dari awal ini bukan alternatif, karena mereka-mereka yang ditinggalkan SBY itu pasti akan mengarah menggabungkan diri ke kubu Megawati," tandas fungsionaris PDIP, Effendy Simbolon.

Partner Golkar, Partai Demokrat mengakui bila langkah tersebut diambil Beringin, maka penopang SBY ini akan lumayan kalang kabut. Alasannya, Golkar sudah banyak meringankan langkah SBY. "Terus terang, jika Golkar mengajukan capres sendiri, atau membangun koalisi sendiri, PD harus bekerja lebih keras untuk mengusung dan memenangkan SBY. Kalau Golkar ikut dalam koalisi, kami tentu lebih ringan," beber Ketua DPP PD, Anas Urbaningrum.

Pengamat politik dari UI, Arbi Sanit, menyebutkan kepastian Blok A ini sepenuhnya dipegang oleh Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla. Apalagi, sudah ada komitmen SBY dan JK akan kembali melanjutkan kerja sama. "Blok Alternatif ini tergantung oleh Jusuf Kalla. Jika Partai Golkar ingin menjadi motor penggerak dari blok ini, JK harus mengakhiri kerjasamanya dengan SBY, jika memang Jusuf Kalla berniat maju untuk menjadi capres," lanjut Arbi.

Surveyor, M Qodari menambahkan dengan kekuatan yang ada, Golkar diprediksi mampu untuk menandingi blok Megawati maupun SBY. Selain memiliki kapasitas sebagai partai besar, Golkar juga memiliki banyak tokoh yang berpotensi ditempatkan dalam kancah politik nasional. "Peran ini sulit diambil PPP, karena pasti PAN ogah bergabung. Sedangkan PKS apalagi. Jadi hanya Golkar yang diunggulkan. Yang membangun itu harus Golkar," tutur Qodari.

Kunci politik kini dipegang JK. Apakah memilih SBY atau Megawati atau membangun Blok A ini?[L4]

2 comments:

Anonymous said...

berita tentang caleg PKS di jambi benar ya? kok dibesar-besarkan banget sih sama media massa ngga fair nih media. giliran PKS yang salah langsung dijadikan headline. ngga elegan tuh caranya, ngga mutu banget.

DPC PKS GEBANG said...

Assalamu'aalikum...
pa, Nanti jadi ya.. insya Allah tanggal 28 Februari di Cirebon ngisi Acara... MMC
Syukron...