Showing posts with label CAPRES. Show all posts
Showing posts with label CAPRES. Show all posts

Tuesday, December 16, 2008

Peluang Capres Alternatif

Jawa Pos, Senin, 15 Desember 2008
Peluang Capres Alternatif, Calon Ketiga setelah SBY dan Mega
Nakhoda PKS dan Golkar Berpotensi Jadi Penantang

Sampai saat ini, baru ada dua capres real yang siap bertarung dalam Pemilu 2009. Yakni, incumbent Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Keduanya sudah resmi dicalonkan oleh parpolnya. Sangat mungkin ada calon alternatif. Lewat mana pintunya?

------

Syarat pencalonan capres yang minimal mengantongi 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional membuat pilihan yang maju di panggung pilpres menjadi sangat terbatas. Paling banyak empat. Itu pun sangat sulit. Yang paling rasional mungkin tiga paket calon.

Bila berasumsi tiga paket calon, dua di antaranya sudah terisi. Yakni, Megawati Soekarnoputri yang dicalonkan PDIP dan incumbent SBY yang dijagokan Partai Demokrat. Kedua calon tersebut dikatakan realistis karena dicalonkan secara resmi oleh partainya. Selain itu, dari berbagai polling, SBY dan Mega bersaing di tempat teratas.

Bila hitung-hitungannya berdasar kekuatan partai, hanya ada dua partai yang berpotensi memunculkan capres baru, yakni PKS dan Partai Golkar. Analisis itu bukannya tanpa alasan. Survei LSI (Lembaga Survei Indonesia) pimpinan Syaiful Mujani per November 2008, misalnya, menyebut elektabilitas Partai Golkar berada di urutan kedua dengan 15,9 persen. Beringin diapit Partai Demokrat (16,8 persen) dan PDIP (14,2 persen). Sedangkan PKS berada di posisi keempat dengan 4,9 persen.

Sekjen DPP PKS Anis Matta tidak menampik kemungkinan partainya mengajukan capres internal. Asalkan, kata dia, PKS bisa merebut 20 persen kursi DPR pada pemilu legislatif. Angka 20 persen kursi itu merupakan syarat minimal bagi parpol atau gabungan parpol untuk mengajukan capres-cawapres.

''Bila rakyat memberi kepercayaan sampai 20 persen kursi, berarti rakyat berharap kami tidak sekadar ada di legislatif. Itu indikator konkret agar PKS tetap bertarung di RI-1,'' ujarnya di Jakarta kemarin (14/12).

Apalagi, kata dia, PKS sudah me-launching delapan kandidat pemimpin nasional dari internal. Dua di antaranya adalah anggota Majelis Syura DPP PKS yang juga Ketua MPR Hidayat Nurwahid serta Presiden PKS Tifatul Sembiring.

Menurut Anis, saat ini delapan nama tersebut sedang digodok DPP. Mulai awal 2009, mereka akan diminta berkeliling ke daerah-daerah. ''Modelnya road show begitulah. Nanti kami lihat bagaimana respons masyarakat,'' jelasnya. Bukan hanya itu, kedelapan orang tersebut juga akan dijajal untuk berdialog dengan kandidat-kandidat capres lain di luar PKS.

Kapan pengerucutannya? ''Setelah pemilu legislatif. Entah konteksnya untuk capres atau cawapres, bergantung hasil perolehan suara PKS,'' katanya.

Ketua DPP PKS Mahfudz Siddiq menuturkan, hasil survei memang hanya menunjukkan dua nama yang terus menguat, yaitu SBY dan Megawati. Namun, tidak berarti konstelasi pilpres 2009 tetap begitu. ''Hasil pemilu April 2009 pasti banyak mengubah peta pencapresan,'' tuturnya.

Menurut dia, posisi PKS masih di titik zero option. Artinya, belum menentukan sikap politik, apakah akan mendukung SBY atau Megawati. ''Sangat mungkin PKS bersama partai lain membentuk poros sendiri untuk mengajukan capres di luar yang dua itu,'' ucapnya.

Malahan, kata Mahfudz, meski PKS tidak mencapai target 20 persen kursi, tetap terbuka peluang untuk memunculkan capres alternatif. Hal tersebut bisa saja terjadi bila kinerja SBY memburuk dan tidak mampu menangani gelombang krisis yang mulai menghantam. Sementara itu, Megawati juga tidak bisa menawarkan komitmen dan agenda konkret untuk lima tahun ke depan.

Golkar juga berpeluang membuat poros sendiri. Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso juga mengisyaratkan terbuka peluang mengusulkan RI-1 dengan syarat raihan suara 30 persen itu. Namun, di sisi lain, sebagian pengurus DPP Golkar sangat mengharapkan kembalinya duet SBY-Kalla.

Di Golkar, suara yang menjagokan Sri Sultan HB X juga tak kalah banyak. Bahkan, SOKSI, salah satu underbow Golkar, sudah terang-terangan mendukung raja Jogja itu.

Selain masih punya harapan di Golkar, Sultan sangat giat membangun jaringan. Selain intensif dengan parpol baru seperti Republikan, dia juga menggalang hubungan dengan PDIP serta PPP. Dia juga sudah rajin keliling Indonesia.

Sukardi Rinakit yang saat ini menjadi koordinator Tim Pelangi Perubahan (TPP), sebutan tim sukses Sultan, tetap yakin bahwa politik merupakan ilmu post factum atau tidak bisa diprediksi. Semua kemungkinan terbuka lebar, hingga saatnya nanti momen politik itu benar-benar terjadi. ''Kalau sudah begitu, orang-orang baru mengait-ngaitkan prediksi mereka sebelumnya,'' ujarnya.

Atas dasar itulah, TPP hingga kini belum ingin menurunkan posisi tawar Sultan untuk menjadi wakil presiden. (pri/cak)

Thursday, August 28, 2008

Hidayat Nurwahid Dipinang SBY?

Hidayat Nurwahid Dipinang SBY?

INILAH.COM, Jakarta - Lirak-lirik capres dan cawapres menjelang Pilpres 2009 mulai bergeliat. Survei Lembaga Riset Informasi (LRI) pernah melansir duet SBY-Hidayat Nurwahid paling populer. Diam-diam, SBY menjajaki pinangan kepada Hidayat?

"Ya memang saya pernah dengar, ada upaya komunikasi dari SBY kepada PKS," kata Ketua FPKS Mahfudz Siddiq di sela dialog kebangsaan 'Nasionalisme di tengah arus perubahan' di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (26/8).

PKS, lanjut dia, mengapresiasi hal tersebut. Namun yang terpenting bagi PKS adalah pada sisa 1 tahun masa pemerintahan, SBY harus menunjukkan kinerjanya.

"Karena itu akan sangat mudah, sehingga PKS pun akan mudah mendukungnya. Dan yang terpenting, kami akan selalu merespons bagaimana pemerintah meningkatkan kinerjanya dengan baik," kata Mahfudz.

PKS, sambung dia, melihat ada sejumlah keberhasilan, meskipun persepsi masyarakat mengenai kinerja pemerintahan masih lemah.

"PKS juga akan sangat terbuka, tidak hanya kepada SBY. Memang ada banyak nama. Tapi PKS belum mengerucut pada satu nama," ujar Mahfudz.

Hasil survei, menurut dia, hanya sebagai salah satu pertimbangan. Sedangkan soal koalisi, akan mudah dilakukan jika kepentingan masyarakat terpenuhi.

Kans Sri Sultan HB X menjadi cawapres PKS? "Dia tokoh yang penting. Dia memiliki visi kebangsaan yang kuat dan mendapat dukungan publik yang kuat. PKS masih memikirkan konstelasi politik Pemilu 2009. Jadi belum bicara person dalam partai yang bisa didengungkan," pungkas Mahfudz.[L3]

Wednesday, August 27, 2008

PKS: Presiden Bayangan Saja Belum Ada

PKS: Presiden Bayangan Saja Belum Ada
Oke Zone Selasa, 26 Agustus 2008 - 12:37 wib
Sholla Taufiq - Okezone
JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) enggan mengikuti rencana Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk membentuk kabinet bayangan. Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq beralasan, Presiden bayangan saja belum ada.

"Presiden bayangan saja belum, apalagi kabinet bayangan," jawab Mahfudz kepada wartawan di sela-sela acara Dialog Kebangsaan di Hotel Sahid Jakarta, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (26/8/2008).

Seperti diketahui, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas pernah mewacanakan membentuk kabinet bayangan. Hal dimaksudkan supaya masyarakat bisa memahami kondisi pemerintahan jika PDIP diberikan kepercayaan untuk berkuasa. (lsi)

Suara Merdeka, 26/08/2008

Ketua FPKS: Duet SBY-Hidayat Dimungkinkan

Jakarta, CyberNews. Ketua Fraksi PKS di DPR, Mahfudz Siddiq, mengatakan kemungkinan memasangkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR yang juga mantan Presiden PKS) pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 sangat terbuka, meski hingga kini PKS belum mengambil sikap atau memunculkan nama-nama calon presiden.

"Duet SBY - Hidayat cukup terbuka, tapi PKS belum mengerucutkan nama," katanya di sela-sela acara diskusi kebangsaan yang diselenggarakan DPP PKS, di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, PKS belum mengambil sikap sehubungan pilpres, namun PKS menginginkan agar Presiden Yudhoyono menunjukkan kinerjanya dalam satu tahun ini. "Jika kinerja Presiden Yudhoyono baik, maka akan sangat mudah untuk menggandeng siapapun, termasuk PKS," katanya.

PKS sendiri, katanya, menilai ada keberhasilan dalam pemerintah Yudhoyono, namun tidak sedikit masalah yang belum diselesaikan, apalagi persepsi publik terhadap kinerja pemerintahan cenderung menurun.

Partai Demokrat sendiri, katanya, belum menyatakan akan menggandeng Hidayat, namun sudah ada langkah penjajakan untuk melakukan koalisi.

Ditanya mengapa hingga sekarang PKS tidak menyebutkan nama capres dan cawapres, Mahfudz menjelaskan PKS ingin melihat dulu "jagoan-jagoan" yang saat ini mulai memunculkan diri. Partai Demokrat sebelumnya juga menyatakan akan menjajaki untuk melakukan koalisi dengan PKS.


Inilah.com 26/08/2008 12:41
Hidayat Nurwahid Dipinang SBY?
Djibril Muhammad
INILAH.COM, Jakarta - Lirak-lirik capres dan cawapres menjelang Pilpres 2009 mulai bergeliat. Survei Lembaga Riset Informasi (LRI) pernah melansir duet SBY-Hidayat Nurwahid paling populer. Diam-diam, SBY menjajaki pinangan kepada Hidayat?

"Ya memang saya pernah dengar, ada upaya komunikasi dari SBY kepada PKS," kata Ketua FPKS Mahfudz Siddiq di sela dialog kebangsaan 'Nasionalisme di tengah arus perubahan' di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (26/8).

PKS, lanjut dia, mengapresiasi hal tersebut. Namun yang terpenting bagi PKS adalah pada sisa 1 tahun masa pemerintahan, SBY harus menunjukkan kinerjanya.

"Karena itu akan sangat mudah, sehingga PKS pun akan mudah mendukungnya. Dan yang terpenting, kami akan selalu merespons bagaimana pemerintah meningkatkan kinerjanya dengan baik," kata Mahfudz.

PKS, sambung dia, melihat ada sejumlah keberhasilan, meskipun persepsi masyarakat mengenai kinerja pemerintahan masih lemah.

"PKS juga akan sangat terbuka, tidak hanya kepada SBY. Memang ada banyak nama. Tapi PKS belum mengerucut pada satu nama," ujar Mahfudz.

Hasil survei, menurut dia, hanya sebagai salah satu pertimbangan. Sedangkan soal koalisi, akan mudah dilakukan jika kepentingan masyarakat terpenuhi.

Kans Sri Sultan HB X menjadi cawapres PKS? "Dia tokoh yang penting. Dia memiliki visi kebangsaan yang kuat dan mendapat dukungan publik yang kuat. PKS masih memikirkan konstelasi politik Pemilu 2009. Jadi belum bicara person dalam partai yang bisa didengungkan," pungkas Mahfudz.[L3]

FPKS: Golkar-PDIP Masih Punya 'Ego'
Djibril Muhammad
INILAH.COM, Jakarta - Dua partai raksasa yakni Golkar dan PDIP mewacanakan 'pernikahan' alias koalisi. Namun koalisi itu diyakini sulit terwujud. Sebab baik Golkar maupun PDIP sama-sama masih punya 'ego'.

'Ego' yang dimaksud adalah mengajukan capres sendiri. PDIP yang meraih 18 persen suara pada Pemilu 2004 diketahui sudah mengajukan capresnya sendiri, yakni Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sedangkan Golkar yang meraih 21 persen suara pada Pemilu 2004 belum mengajukan capres.

"Golkar juga pasti punya semangat untuk mengajukan presiden sendiri. Jadi koalisi itu belum bisa terwujud dalam Pemilu atau Pilpres 2009," kata Ketua FPKS Mahfudz Siddiq di Puri Putri Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (26/8).

Bagi PKS, lanjut dia, dalam posisi siapa pun capres yang nanti akan terpilih, harus memang betul-betul menunjukkan komitmen kerakyatan dan kebangsaannya. PKS akan mendukungnya dengan sepenuh hati.

"Jadi posisi kita melihat dulu perkembangannya. PKS mau lihat dulu jagoan-jagoan yang ada. Nanti pada saatnya kita akan tentukan," kata Mahfudz mengenai nama capres atau cawapres PKS.[L3]

Kapanlagi. Selasa, 26 Agustus 2008 14:14
PKS Mungkin Pasangkan SBY - Nur Wahid

Kapanlagi.com - Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddiq mengatakan, kemungkinan memasangkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR yang juga mantan Presiden PKS) pada pemilu presiden (pilpres) 2009 sangat terbuka meski hingga kini PKS belum mengambil sikap atau memunculkan nama-nama calon presiden.

"Duet SBY - Hidayat cukup terbuka, tapi PKS belum mengerucutkan nama," katanya di sela-sela acara diskusi kebangsaan yang diselenggarakan DPP PKS, di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, PKS belum mengambil sikap sehubungan pilpres, namun PKS menginginkan agar Presiden Yudhoyono menunjukkan kinerjanya dalam satu tahun ini. "Jika kinerja Presiden Yudhoyono baik maka akan sangat mudah untuk menggandeng siapapun, termasuk PKS," katanya.

PKS sendiri, katanya, menilai ada keberhasilan dalam pemerintah Yudhoyono namun tidak sedikit masalah yang belum diselesaikan apalagi persepsi publik terhadap kinerja pemerintahan cenderung menurun.

Partai Demokrat sendiri, katanya, belum menyatakan akan menggandeng Hidayat, namun sudah ada langkah penjajakan untuk melakukan koalisi.

Ditanya mengapa hingga sekarang PKS tidak menyebutkan nama capres dan cawapres, Mahfudz mengatakan, PKS ingin melihat dulu "jagoan-jagoan" yang saat ini mulai memunculkan diri.

Partai Demokrat sebelumnya juga menyatakan akan menjajaki untuk melakukan koalisi dengan PKS. (*/bee)

Antara
Duet Yudhoyono-Hidayat Dimungkinkan, Kata Ketua FPKS

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Fraksi PKS di DPR, Mahfudz Siddiq, mengatakan kemungkinan memasangkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR yang juga mantan Presiden PKS) pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 sangat terbuka, meski hingga kini PKS belum mengambil sikap atau memunculkan nama-nama calon presiden.

"Duet SBY - Hidayat cukup terbuka, tapi PKS belum mengerucutkan nama," katanya di sela-sela acara diskusi kebangsaan yang diselenggarakan DPP PKS, di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, PKS belum mengambil sikap sehubungan pilpres, namun PKS menginginkan agar Presiden Yudhoyono menunjukkan kinerjanya dalam satu tahun ini. "Jika kinerja Presiden Yudhoyono baik, maka akan sangat mudah untuk menggandeng siapapun, termasuk PKS," katanya.

PKS sendiri, katanya, menilai ada keberhasilan dalam pemerintah Yudhoyono, namun tidak sedikit masalah yang belum diselesaikan, apalagi persepsi publik terhadap kinerja pemerintahan cenderung menurun.

Partai Demokrat sendiri, katanya, belum menyatakan akan menggandeng Hidayat, namun sudah ada langkah penjajakan untuk melakukan koalisi.

Ditanya mengapa hingga sekarang PKS tidak menyebutkan nama capres dan cawapres, Mahfudz menjelaskan PKS ingin melihat dulu "jagoan-jagoan" yang saat ini mulai memunculkan diri.

Partai Demokrat sebelumnya juga menyatakan akan menjajaki untuk melakukan koalisi dengan PKS. (*)